Surumba.com - Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan pada tahun 2025 menjadi tonggak penting dalam perjalanan bangsa. Namun bagi Kabupaten Buton, capaian dimaknai sebagai momentum strategis untuk memperkuat kemandirian pangan berbasis potensi lokal dan kerja nyata di lapangan.

Momentum tersebut diikuti langsung oleh Bupati Buton, Alvin Akawijaya Putra, S.H., yang menghadiri pengumuman nasional swasembada pangan secara daring dari Aula Kantor Lurah Wakoko, Kecamatan Pasarwajo, pada Rabu (7 Januari 2026). Pengumuman yang disampaikan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dari Karawang, Jawa Barat itu diikuti serentak oleh berbagai daerah di Indonesia, termasuk Kabupaten Buton.

Di Buton, kegiatan zoom meeting tidak hanya terpusat di satu lokasi. Para kelompok tani yang didampingi penyuluh pertanian mengikuti acara ini dari tujuh titik berbeda, yakni Kecamatan Kapontori yang dipusatkan di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kapontori, Kelurahan Wakangka, Kecamatan Siotapina di Desa Sumber Sari, Kecamatan Wolowa di Desa Sukamaju, Kecamatan Wabula di Desa Wabula I, Kecamatan Lasalimu Selatan di BPP Lasalimu Selatan Desa Siomanuru, Kecamatan Lasalimu di Desa Lawele, serta Kecamatan Pasarwajo di Kelurahan Wakoko. Kegiatan ini juga diikuti unsur Forkopimcam, menunjukkan keterlibatan lintas sektor dalam agenda ketahanan pangan.

Bupati Buton mengikuti kegiatan tersebut di Kelurahan Wakoko bersama Wakapolres Buton, Danramil 1413-02 Pasarwajo, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah terkait, perwakilan kelompok tani, serta masyarakat setempat. Kehadiran berbagai unsur ini menjadi gambaran bahwa ketahanan pangan bukan hanya urusan satu institusi, tetapi tanggung jawab bersama antara pemerintah, aparat, dan masyarakat.

Sebelum pengumuman nasional dimulai, Bupati Buton didampingi Kepala Dinas Pertanian dan OPD terkait menyempatkan diri berdialog langsung dengan para petani. Dalam pertemuan tersebut, Bupati mendengarkan secara langsung aspirasi, kendala produksi di lapangan, hingga harapan petani terhadap pengembangan sektor pertanian di wilayah kelurahan maupun Kabupaten Buton secara umum. Dialog ini menjadi ruang penting untuk memastikan bahwa kebijakan daerah tidak berhenti di atas kertas, tetapi berangkat dari realitas yang dihadapi petani sehari-hari.

Dalam pengumuman nasional yang dipusatkan di Karawang, Presiden Prabowo Subianto secara resmi menyampaikan bahwa Indonesia telah kembali mencapai swasembada pangan pada tahun 2025. Presiden menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi bergantung pada impor pangan dari negara lain. Menurut Presiden, capaian ini harus menjadi dasar untuk membangun kemandirian bangsa yang sesungguhnya.

Presiden Prabowo juga menyoroti besarnya potensi dan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dikelola dengan lebih baik agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh rakyat. Ia menegaskan bahwa ketergantungan impor pangan di tengah kekayaan sumber daya alam merupakan kondisi yang tidak masuk akal dan harus diakhiri.

“Hari ini kita mencatat suatu kemenangan. Tidak ada bangsa yang merdeka kalau pangan tidak tersedia untuk rakyatnya. Tidak mungkin bangsa merdeka kalau bergantung pada bangsa lain,” ujar Presiden Prabowo dalam sambutannya.

Pesan tersebut menjadi penguat bahwa swasembada pangan bukanlah tujuan akhir, melainkan fondasi untuk membangun kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan. Bagi daerah seperti Kabupaten Buton, capaian nasional ini menjadi panggilan untuk memperkuat sektor pertanian lokal, meningkatkan produktivitas, serta memastikan petani mendapatkan dukungan yang memadai.

Menanggapi pengumuman tersebut, Bupati Buton menyatakan swasembada pangan nasional harus dijadikan momentum bagi daerah untuk semakin serius mengembangkan sektor pertanian. Pemerintah Kabupaten Buton berkomitmen memperkuat peran petani dan penyuluh, mendorong optimalisasi lahan pertanian, serta memaksimalkan potensi pangan lokal sebagai penopang ekonomi masyarakat.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Buton memandang ketahanan pangan tidak hanya diukur dari ketersediaan hasil panen, tetapi juga dari keberlanjutan usaha tani dan meningkatnya kesejahteraan petani. Dari desa dan kelurahan, agenda besar swasembada pangan nasional diharapkan tumbuh menjadi kemandirian pangan daerah yang kokoh dan berkelanjutan.

Dari Wakoko hingga pelosok Buton, momentum swasembada pangan menjadi titik tolak untuk melangkah lebih jauh menguatkan pangan lokal, memperkuat petani, dan membangun kemandirian dari tanah sendiri. (Adm)